SEJARAH DESA WATUKEBO

  09 Mei 2017  |  DESA WATUKEBO

        Sejarah Desa Watukebo Kecamatan Blimbingsari Kabupaten Banyuwangi berawal alkisah dikala itu Pangeran Haryo Tjakraningrat di Krajaan Yogyakarta Hadininngrat mempunyai seorang putra yang bernama Raden Karto Asmoro. Dalam suatu hari ketika tidur siangnya Sang Raden Karto Asmoro bermimpi bertemu seorang gadis cantik yang bernamaMade Kuppe dari Negara Bali. Mimpi pertemuan itu akhirnya menjadi baying-banayang yang tak terlupakan dalam hari-hari kehidupan Raden Karto Asmoro, dan membuat hati gundah gulana ingin untuk memeliki gadis yang dimimpinya itu.

Hingga suatu saat Sang Ayah Pangeran Haryo Tjakraningrat merasa kasihan terhadap putranya, dan dipanggilah Sang Putra, maka disampaikanlah  hal hal yang selama ini yang selalu merisaukan hati Raden Karto Asmoro atas mimpinya itu, selama ini ingin memiliki gadis impianya Made Kuppe dari Negara Bali. Akhirnya Sang Pangeran Haryo Tjakraningrat menyanggupi apa yang diinginkan oleh San Putra, yakni ingin melamar gadis pujaan hatinya, Made Kuppe dari Negara Bali. Sang Pangeran Haryo Tjakraningrat memerintahkan Senopatinya untuk dating ke Negara Bali untuk menemui Gusti Made Djelantik ayahanda Made Kuppe, dengan maksud kedatangannya adalah ingin meminang Putrinya yaitu Made Kuppe untuk dijadikan istri raden Karto Asmoro.

Kedatangan Senopati akhirnya diterima oleh Gusti Made Djelantik dan keinginan Raden Karto Asmoro langsung disampaiakn kepada putrinya yaitu Made Kuppe. Setelah berbincang-bincang cukup lama akhirnya Sang Putri Made Kuppe menyanggupi perminintaan Raden Karto asmoro untuk dijadikan istrinya tapi dengan memenuhi syarat , yaitu harus membawa Kebo Landu sebanyak 44

Ekor.Singkat cerita persyaratan itu diterima dan dibawalah pesan itu oleh Senopati untuk disamapaikan kepada Sang Pangeran Haryo Takraningrat. Untuk menyanggupi permintaan putranya  ( Raden Karto Asmoro ) , maka Pangeran Haryo Tjakraningrat memerintahkan para Senoipati untuk mencari Kebo Landusebanyak 44 ekor dan segera untuk disampaikan kepada Sang Pangeran  Gusti Made Djelantik sebagaiman persyaratan untuk memeinang putrinya ( Made Kuppe ).

Ditengah perjalanan dalam rangka menghantarkan Kebo Landu sebagai Hantaran pinangan, Disaat perjalanan yang cukup panjang itu para senopati mengalami kelelahan , akhirnya para Senopati dan beberapa Kebo Landu berhenti sejenak untuk melepas lelah sambil melentangkan badan hingga sampai tertidurlah para Senopati bersama-sama Kebo Landu. Setelah tertidur cukup lama, para senopati terbangun dn terkejut, lalu membangunkan teman-teman senopati untuk melanjutkan perjalanannya ke Negara Bali., kemudian mendatangai beberapa Kebo Landu  untuk disiapkan berangkat ke Negara Bali , akan tetapi dar 44 Ekor Kebo Landu tersebut tinggal satu ekor  Kebo Landu itu yang tertidur leleapdan sangat sulit untuk dibangunkan .

Setelah berulangkali sang senopati berusaha untuk membangunkan tetapi hasilnya nihil, dan Kebo landu itu tetap tidak mau bangun. Dalam kekesalanya dan kelelahanya dalam membangunkan Kebo Landu yang satu itu lalu Sang Senopati Bertuah denga sangat marah ( Hai Kebo Landu kue iku yen turu oro keno ditangekno, kue iku koyo Watu) dan saat itulah juga Kebo Landu yang satu ini menjadi Batu dan merip bentuk kerbau, untuk mengenang peristiwa ini salah satu  ketua Para Senopati menyampaikan kalimat, Seandainya nanti jaman telah berkembang maka tempat ini Namailah Deso utowo Kuto WATUKEBO, WATU artinya Batu dan KEBO artinya Kerbau dan jadilah NAMA WATUKEBO, semua ini akibat Kebo Landu yang terkutuk menjadi Batu, akhirnya sampai saat ini disebutlah DESA WATUKEBO menjadi salah Desa di Kecamatan Blimbingsari Kabupaten Banyuwangi.

Contact Details

  Alamat :  
  Email :
  Telp. :
  Instagram :
  Facebook :
  Twitter :


© 2019,   Web Desa Kabupaten Banyuwangi